uuntuk mendownload file diatas klik link dibawah in i
Dr. Syeikh Yusuf Al-Qardhawi, seorang ulama dari Mesir,
mencoba menerangkan bagaimana cara me-manage waktu menurut cara-cara Islam. Hal
ini dikutip dalam buku beliau �Disiplin Waktu� dengan alih bahasa M. Qodirun
Nur, penerbit Ramdhani, Solo. Berikut sedikit uraian beliau.
Al- Qur�an dan As-Sunnah sangat menaruh perhatian terhadap
waktu, dari berbagai aspek dan dengan bentuk-bentuk yang beragam. Perhatian
demikian menunjukkan pentingnya waktu dan mengungkap besarnya nikmat Allah di
dalamnya.
Selain itu dalam Al-Qur�an banyak ayat-ayat yang menerangkan
bahwa kebanyakan ibadah selalu dikaitkan dengan waktu. Waktu mempunayi
ciri-ciri khusus yang istimewa, antara lain:
Cepat habis, waktu itu berjalan terus menerus, tetapi jika
kita berada dalam keaadaan yang gembira maka waktu akan terasa lebih cepat.
Waktu yang telah habis tak akan kembali dan tak mungkin
dapat diganti. Itulah ciri khas waktu yang lain dari berbagai ciri-ciri khusus
waktu.
Modal terbaik bagi manusia. Oleh karena alasan-alasan di
atas maka waktu adalah modal yang berbaik bagi manusia.
Waktu yang dihayati manusia terbagi menjadi tiga, masa lalu,
sekarang dan masa depan. Ada
pengagum masa lampau, masa kini atau masa depan, tetapi juga ada umat manusia
yang bersikap I�tidal dan tawazun, yaitu yang dapat memberikan hak pada
masing-masing bagian dari masa tersebut, tanpa melampaui batas dan tanpa
merugikan diri sendiri. Namun mereka ini amat sedikit jumlahnya.
Dalam hidup ini, terdapat bahaya yang cukup banyak, yang dapat
mebiasakan waktu bagi manusia dan justru memakan usianya, bila ia tidak waspada
terhadap bahayanya. Di antara bahayanya itu ialah:
Kelalaian, adalah suatu penyakit yang menimpa akal dan hati
manusia, sehingga ia hilang kesadarannya terhadap kejadian-kejadian yang
dihadapi.
Menunda-nunda waktu. Bahay yang lain yang lebih mengerikan
lagi terhadap usaha manusia menggunakan masa kini adalah menunda waktu,
sehingga perkataan nanti saja menjadi lambangnya dan karakter hidupnya.
Mencerca masa, menggambarkan waktu sebagai lawan yang
menindasnya, sebagai musuh yang mengintainya.
Paksalah Diri Berbuat Taat
Oleh KH. Abdullah Gymnastyar
Mahasuci Allah, Zat yang memiliki segalanya. Mahacermat dan
Mahasempurna Allah sehingga sama sekali Ia tidak membutuhkan apapun dari
hamba-hamba-Nya. Tidak ada kepentingan dan mamfaat yang bisa kita berikan,
karena Allah secara total dan Mahasempurna telah mencukupi dirinya sendiri.
Ribuan malaikat yang gemuruh bertasbih, bertahmid, dan bertakbir tiap detik,
tiap waktu, tiap kesempatan memuji Allah, itupun hanya menunjukkan keagungan
dan kebesaran-Nya.
Jika Allah menciptakan makhluk jin dan manusia kemudian
diperintahkan untuk taat, bukan karena Allah membutuhkan ketaatan makhluk-Nya.
Sungguh, semua perintah dari Allah adalah karunia agar kita menjadi terhormat,
mulia, dan bisa kembali ke tempat asal mula kita yaitu surga. Jadi kalau kita
masuk neraka, naudzubillaah, sama sekali bukan karena kurangnya karunia Allah,
tapi karena saking gigihnya kita ingin jadi ahli neraka, yaitu dengan banyaknya
maksiat yang kita lakukan.
Allah SWT Mahatahu bahwa kita memiliki kecenderungan lebih
ringan kepada hawa nafsu dan lebih berat kepada taat. Oleh karena itu, jika
kita mendapat perintah dari Allah, dalam bentuk apapun, si nafsu ada kecenderungan
berat melakukannya, bahkan tak segan-segan untuk menolaknya. Misalnya ibadah
shalat cenderung inginnya dilambatkan. Urusan shaf saja, tidak banyak orang
berebutan menempati shaf pertama. Amati saja justru shaf belakang cenderung
lebih banyak diminati. Perintah shalat memang banyak yang melakukan, tetapi
belum tentu semua melakukannya tepat waktu. Begitu juga dengan tepat waktu,
belum tentu juga bersungguh-sungguh khusyu. Bahkan ada � mungkin salah satunya
kita � yang justru menikmati shalat dengan pikiran yang melantur,
melayang-layang tak karuan, sehingga tak jarang banyak program atau urusan
duniawi lainnya yang kita selesaikan dalam shalat. Dan yang lebih parah lagi,
kita tidak merasa bersalah karenanya.
Saat menafkahkan rizki untuk sedekah, maka si nafsu akan
membuat seakan-akan sedekah itu akan mengurangi rizki kita, bahkan pada
lintasan berikutnya sedekah ini akan dianggap membuat kita tifdak punya
apa-apa. Padahal, sungguh sedekah tidak akan mengurangi rizki, bahkan akan
menambah rizki kita. Namun, karena nafsu tidak suka kepada sedekah, maka jajan
justru lebih disukai.
Sungguh, kita telah diperdaya dengan rasa malas ini. Bahkan
saat malas beribadah, otak kita pun dengan kreatif akan segera berputar untuk
mencari dalih ataupun alasan yang dipandang logis dan rasional. Sehingga
apa-apa yang kita lakukan karena malas, seolah-olah mendapat legitimasi karena
alasan kita yang logis dan rasional itu, bukan semata-mata karena malas. Ah,
betapa hawa nafsu begitu pintar mengelabui kita. Lalu, bagaimana cara kita
mengatasi semua kecenderungan negatif diri kita ini?
Cara yang paling baik yang harus kita lakukan adalah
kegigihan kita melawan kemalasan diri. Kecenderungan malas itu kalau mau
diikuti terus menerus akan tidak ada ujungnya, bahkan akan terus membelit kita
menjadi seorang pemalas kelas berat, naudzubillaah. Berangkat ke mesjid, maunya
dilambat-lambat, maka harusnya lawan! Berangkat saja. Ketika terlintas, nanti
saja wudhunya di mesjid, lawan! Di mesjid banyak orang, segera lakukan wudhu di
rumah saja! Itu sunnah. Sungguh, orang yang wudhu di rumah lalu bergegas
melangkahkan kakikya ke mesjid untuk shalat, maka setiap langkahnya adalah
penggugur dosa dan pengangkat derajat.
Sampai di mesjid, paling nikmat duduk di tempat yang
memudahkan dia keluar dari mesjid, bahkan kadangkala tak sungkan untuk
menghalangi orang lewat. Lebih-lebih lagi bila memakai sandal bagus, ia akan
berusaha sedekat mungkin dengan sandalnya, dengan alasan takut dicuri orang.
Begitulah nafsu. Bagi orang yang menginginkan kebaikan, dia akan berusaha agar
duduknya tidak menjadi penghalang bagi orang lain. Maka akan dicarinyalah shaf
yang paling depan, shaf yang paling utama.
Sesudah shalat, ketika mau zikir, kadang terlintas urusan
pekerjaan yang harus diselesaikan. Maka bagi yang tekadnya kurang kuat ia akan
segera ngeloyor pergi, padahal zikir tidak lebih dari sepuluh menit, ngobrol
saja lima belas
menit masih dianggap ringan. Atau ada juga yang sampai pada tahap zikir,
diucapnya berulang-ulang, subhanallaah � subhanallah, tapi pikiran melayang
kemana saja. Anehnya lagi kalau memikirkan dia si jantung hati konsentrasinya
sungguh luar biasa. Kenapa, misalnya, mengucap subhanallaah tiga puluh tiga
kali, yang sadar mengucapkannya cuma satu kali? Atau ingatlah saat kita akan berdo�a.
Walaupun dilakukan, akan dengan seringkas mungkin. Padahal demi Allah,
zikir-zikir yang kita ucapkan akan kembali pada diri kita juga.
Oleh karena itu, bila muncul rasa malas untuk beribadah, itu
berarti hawa nafsu berupa malas sedang merasuk menguasai hati. Segeralah lawan
dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada, dengan cara segera melakukan
ibadah yang dimalaskan tersebut. Sekali lagi, bangun dan lawan! Insya Allah itu
akan lebih dekat kepada ketaatan. Janganlah karena kemalasan beribadah yang
kita lakukan, menjadikan kita tergolong orang-orang munafik, naudzubillaah.
Firman Allah, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu
hendak menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka
berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan
shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah, kecuali sedikit
sekali." (QS. An Nisa [4] : 142)
Ingatlah bahwa kalau kita tergoda oleh bisikan hawa nafsu
berupa kemalasan dalam beribadah, maka kita ini sebenarnya sedang menyusahkan
diri sendiri, karena semua perintah itu adalah karunia Allah buat kemaslahatan
diri kita juga. Coba, Allah menyuruh kita berzikir, siapa yang dapat pahala?
Kita. Allah menyuruh kita berdo�a, lalu do�a itu diijabah. Buat siapa? Buat
kita. Allah sedikit pun tidak ada kepentingan mamfaat atau madharat terhadap
apa-apa yang kita lakukan. Tepatlah ungkapan Ibnu Atho�illah dalam kitabnya,
Hikam, "Allah mewajibkan kepadamu berbuat taat, padahal yang sebenarnya
hanya mewajibkan kepadamu masuk ke dalam surga-Nya (dan tidak mewajibkan
apa-apa kepadamu hanya semata-mata supaya masuk ke dalam surga-Nya)". Maka
Abul Hasan Ashadilly menasehatkan bahwa, "Hendaknya engkau mempunyai satu
wirid, yang tidak engkau lupakan selamanya, yaitu mengalahkan hawa nafsu dengan
lebih mencintai Allah SWT".
Maka kalau kita sengsara, kita susah, kita menderita, itu
bukan karena siapa-siapa, itu semua kita yang buat. Padahal sungguh, setiap
desah nafas yang kita hembuskan adalah amanah dari Allah SWT, dan sebagai
titipan wadah yang harus kita isi dengan amal-amal kebaikan. Sedangkan hak
ketuhanan tetap berlaku pada tiap detik yang dilalui oleh seorang hamba. Abul
Hasan lebih lanjut mengatakan, "Pada tiap waktu ada bagian yang mewajibkan
kepadamu terhadap Allah SWT (yaitu beribadah)".
Jadi, sungguh sangat aneh jika kita bercita-cita ingin
bahagia, ingin dimudahkan urusan, ingin dimuliakan, tapi justru amal-amal yang
kita lakukan ternyata menyiapkan diri kita untuk hidup susah. Seperti orang
yang bercita-cita masuk surga tapi amalan-amalan yang dipilih amalan-amalan
ahli maksiat. Maka, sahabat-sahabat sekalian sederhanakanlah hidup kita,
paksakan diri untuk taat kepada perintah Allah kalau belum bisa ikhlas dan
ringan dalam beribadah. Mudah-mudahan Allah yang melihat kegigihan diri kita
memaksa diri ini, nanti dibuat jadi tidak terpaksa karena Dia-lah yang Maha
Menguasai diri ini. Insya Allah.
dari milist daarut-tauhiid
Mengoptimalkan Daya Ubah
Oleh KH. Abdullah Gymnastiar
Mengubah perilaku ternyata tidak cukup hanya dengan contoh,
akan tetapi kita juga harus mau mendidik, melatih, dan membina secara
sistematis, berkesinambungan, dan terus menerus. Seorang pemimpin haruslah
punya kesabaran dalam mendidik, membimbing, melatih, dan membina yang
dipimpinnya dengan penuh kasih sayang. Bahkan dia harus memiliki kesabaran
pangkat tiga. Sabar, sabar, dan sabar. Sungguh, proses itu adalah bagian dari
perubahan, pepatah mengatakan �ala bisa karena biasa�. Karenanya, daripada membeli
barang-barang di rumah yang mahal-mahal dan tidak terlalu diperlukan, lebih
baik uangnya digunakan untuk mendidik anak, melatih anak ita supaya mampu hidup
lebih baik.
Sebuah illustrasi, suatu waktu ada sebuah keluarga sederhana
yang sungguh sangat mengesankan. Di rumahnya tidak banyak barang berharga,
tidak ada barang mewah, tapi semua anak-anaknya ternyata bisa menyelesaikan
kuliah S-1, S-2, bahkan S-3 dengan baik. Akhlaknya juga bagus. Ketika ditanya,
"Saya lihat penghasilan Bapak lebih dari cukup, tapi kenapa keluarga Bapak
nampak begitu sederhana?". Si Bapak ini menjawab terus terang,
"Penghasilan yang saya dapat selama ini saya kumpulkan supaya anak-anak
saya bisa belajar terus menerus, bisa berlatih terus menerus dan bisa terdidik
terus menerus. Prioritas keluarga kami bukan membeli barang-barang yang bagus.
Yang terpenting adalah bagaimana agar anak-anak kami punya kesempatan untuk
terus melatih diri."
Subhanallaah, demikian indahnya kebersamaan sebuah keluarga
yang memiliki komitmen yang luar biasa akan penambahan ilmu pengetahuan.
Sembari mendidik dan melatih, maka semestinya kita buat pula
aturan atau sistem. Buatlah aturan di rumah kita, di kantor kita, di organisasi
kita, atau dimana pun agar orang lain bisa terbantu untuk berubah sesuai yang
diinginkan. Suatu sistem akan segera hancur berantakan jika tidak memiliki
aturan main. Jalan raya yang tanpa aturan, akan kacau balau, macet dimana-mana.
Setiap orang berebutan, saling mendahului, dan berhenti dimana saja. Tanpa
aturan, semua berantakan. Karenanya semua harus ada aturannya.
Begitu pun rumah tangga yang tidak memiliki aturan main yang
benar, yakin sekali rumah tangga yang semacam ini akan segera hancur. Anak
tidak dididik agama secara serius, ibadah dibiarkan semaunya, dan tidak diberi
contoh yang benar oleh orang tuanya. Saat-saat bersama di rumah tidak ada
aturannya. Tidak punya aturan yang real bagaimana mendidik anak menjadi lebih
baik. Karenanya rumah tangga yang tidak punya komitmen untuk sebuah aturan
bahkan lagi tidak tahu aturan, akan cenderung saling menyakiti, saling melukai,
dan saling menghancurkan.
Tegakkanlah aturan yang adil, yang dibuat atas kesepakatan
bersama. Lingkungan kerja kita harus merupakan sistem yang kondusif yang dapat
membantu orang berubah menjadi lebih baik. Haruslah terjadwal jam berapa baca
Al Qur�an, jam berapa bersama memecahkan masalah, jam berapa bertukar pikiran,
jam berapa harus bersilaturahmi, jam berapa harus bercengkerama, dan lain
sebagainya. Kita harus membuat aturan yang jelas. Yakinlah bahwa rumah tangga
yang tidak punya aturan, tidak punya sistem yang bagus, lambat laun akan
berantakan dan menderita.
Semua perubahan ini akan berarti lagi jika didukung oleh
kekuatan ruhiyah, yaitu do�a. Dan ternyata orang bisa berubah dengan kekuatan
do�a. Ingatlah bahwa do�a adalah pengubah takdir. Banyak hal yang tidak bisa
dilakukan dengan kekuatan fisik, tapi yakinlah bahwa Allah SWT Maha Menguasai,
Maha Pembolak-balik hati setiap makhluk-Nya.
Karenanya, luar biasa sekali kekuatan do�a ini. Betapa tidak?
Rumah tangga yang tidak tegak ibadahnya, rumah tangga yang jauh dari agama,
rumah tangga yang tidak menambah ilmu dengan baik, akan segera dipusingkan oleh
bergelombanngya masalah yang datang.
Sama saja dengan perusahaan yang karyawannya jarang shalat,
aturan tidak ditaati, pimpinan tidak memberi contoh yang baik, bersiap-siaplah
untuk segera bangkrut. Kondisi negara kita saat ini pun demikian, kehilangan
contoh suri tauladan, pendidikan SDM-nya tidak jelas mau dibawa kemana,
sistemnya juga berantakan, dan sebagian lagi, ibadahnya juga semrawut. Jangan
heran jika yang kita dapati adalah derita demi derita, kehinaan demi kehinaan,
naudzubillaah.
Karena itu, kekuatan ibadah, kekuatan do�a, kekuatan munajat
harus menjadi tulang punggung, menjadi senjata untuk mengubah anak-anak juga
teman-teman kita menuju arah kebaikan. Tegakkanlah di rumah tangga kita aturan
dengan baik, panjatkan pula do�a secara terus menerus, melimpah dari lisan
kita. Bantu agar orang lain menjadi lebih baik. Buat aturan yang benar,
kondusif, dan pastikan diri kita jadi contoh. Mudah-mudahan hidup yang cuma
sekali-kalinya ini bisa bermamfaat dengan mengubah orang lain menuju kebaikan.
Rasulullah SAW itu meskipun sedikit bicaranya, tapi jadi
monumental sampai sekarang dalam bentuk hadits. Hal ini terjadi karena
pribadinya sungguh luar biasa. Bermilyar kata terungkap dari pribadinya.
Ketulusan beliau dalam mengajak orang lain berbuat lebih baik, membuat pribadi
dan kata-katanya tersimpan di hati orang lain. Ingat baik-baik, hati hanya bisa
disentuh oleh hati lagi. Emosional dalam memberi contoh, emosional dalam
mendidik, emosional dalam membuat aturan, emosional dalam bersikap, tidak akan
masuk ke hati orang lain, bahkan justru akan membuat hati mereka terluka.
Seharusnya diri pribadi kita ini terus menerus melimpah
pancaran bagai mata air, menggelegak kasih sayang kita kepada orang lain.
Setiap melihat orang yang berlumur dosa, ada keinginan di hati kita agar orang
tersebut bisa bertaubat. Melihat orang yang tersesat di jalan Allah, ada
keinginan hati ini agar orang tersebut dapat tuntunan supaya selamat dunia dan
akhiratnya. Melihat orang yang nakal, ingin hati ini agar dia menjadi shaleh.
Jangan pernah hidup dalam kebencian dan kedendaman. Kebencian dan kedendaman
dalam mebuat contoh, aturan, nasihat, dan pelatihan yang dilakukan, tidak akan
berarti apapun.
Sistem pelatihan yang penuh kemarahan semacam Ospek, tidak
akan berhasil dengan baik kalau para mentornya, para panitianya melakukan
segala bentuk kegiatannya dengan penuh kemarahan, angkara murka, tidak jadi
suri tauladan yang baik. Apa yang diharapkan oleh mahasiswa baru dari para
kakak kelasnya kalau mereka berperilaku semacam itu? Tidak ada perubahan
kecuali dengan hati yang tulus, suri tauladan yang nyata.
Mudah-mudahan kita semua dapat mengevaluasi diri
masing-masing. Hidup cuma sekali, kenangan terindah bagi anak-anak kita adalah
kepribadian ayah ibunya yang benar-benar mulia. Kenangan terindah bagi
masyarakat di sekitar kita adalah kearifan diri kita. Jangan sampai orang sibuk
membicarakan contoh keburukan pribadi kita, naudzubillaah.
dari milist daarut-tauhiid
Pribadi Muslim Berprestasi
Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar
Sekiranya kita hendak berbicara tentang Islam dan
kemuliaannya, ternyata tidaklah cukup hanya berbicara mengenai ibadah ritual
belaka. Tidaklah cukup hanya berbicara seputar shaum, shalat, zakat, dan haji.
Begitupun jikalau kita berbicara tentang peninggalan Rasulullah SAW, maka tidak
cukup hanya mengingat indahnya senyum beliau, tidak hanya sekedar mengenang
keramah-tamahan dan kelemah-lembutan tutur katanya, tetapi harus kita lengkapi
pula dengan bentuk pribadi lain dari Rasulullah, yaitu : beliau adalah orang
yang sangat menyukai dan mencintai prestasi!
Hampir setiap perbuatan yang dilakukan Rasulullah SAW selalu
terjaga mutunya. Begitu mempesona kualitasnya. Shalat beliau adalah shalat yang
bermutu tinggi, shalat yang prestatif, khusyuk namanya. Amal-amal beliau
merupakan amal-amal yang terpelihara kualitasnya, bermutu tinggi, ikhlas
namanya. Demikian juga keberaniannya, tafakurnya, dan aneka kiprah hidup
keseharian lainnya. Seluruhnya senantiasa dijaga untuk suatu mutu yang
tertinggi.
Ya, beliau adalah pribadi yang sangat menjaga prestasi dan
mempertahankan kualitas terbaik dari apa yang sanggup dilakukannya. Tidak heran
kalau Allah Azza wa Jalla menegaskan, "Sesungguhnya telah ada pada diri
Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang
mengharap rahmat Allah ..." (QS. Al Ahzab [33] : 21)
Kalau ada yang bertanya, mengapa sekarang umat Islam belum
ditakdirkan unggul dalam kaitan kedudukannya sebagai khalifah di muka bumi ini?
Seandainya kita mau jujur dan sudi merenung, mungkin ada hal yang tertinggal di
dalam menyuritauladani pribadi Nabi SAW. Yakni, kita belum terbiasa dengan kata
prestasi. Kita masih terasa asing dengan kata kualitas. Dan kita pun kerapkali
terperangah manakala mendengar kata unggul. Padahal, itu merupakan bagian yang
sangat penting dari peninggalan Rasulullah SAW yang diwariskan untuk umatnya hingga
akhir zaman.
Akibat tidak terbiasa dengan istilah-istilah tersebut, kita
pun jadinya tidak lagi merasa bersalah andaikata tidak tergolong menjadi orang
yang berprestasi. Kita tidak merasa kecewa ketika tidak bisa memberikan yang
terbaik dari apa yang bisa kita lakukan. Lihat saja shalat dan shaum kita, yang
merupakan amalan yang paling pokok dalam menjalankan syariat Islam. Kita jarang
merasa kecewa andaikata shalat kita tidak khusyuk. Kita jarang merasa kecewa
manakala bacaan kita kurang indah dan mengena. Kita pun jarang kecewa sekiranya
shaum Ramadhan kita berlalu tanpa kita evaluasi mutunya.
Kita memang banyak melakukan hal-hal yang ada dalam aturan
agama tetapi kadang-kadang tidak tergerak untuk meningkatkan mutunya atau
minimal kecewa dengan mutu yang tidak baik. Tentu saja tidak semua dari kita
yang memiliki kebiasaan kurang baik semacam ini. Akan tetapi, kalau berani
jujur, mungkin kita termasuk salah satu diantara yang jarang mementingkan
kualitas.
Padahal, adalah sudah merupakan sunnatullah bahwa yang
mendapatkan predikat terbaik hanyalah orang-orang yang paling berkualitas dalam
sisi dan segi apa yang Allah takdirkan ada dalam episode kehidupan dunia ini.
Baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, Allah Azza wa Jalla selalu
mementingkan penilaian terbaik dari mutu yang bisa dilakukan.
Misalnya saja shalat, "Qadaflahal mu�minuun. Alladziina
hum fii shalaatihim" (QS. Al Mu�minuun [23] : 1-2). Amat sangat berbahagia
serta beruntung bagi orang yang khusyuk dalam shalatnya. Artinya, shalat yang
terpelihara mutunya, yang dilakukan oleh orang yang benar-benar menjaga kualitas
shalatnya. Sebaliknya, "Fawailullilmushalliin. Alladziina hum�an
shalatihim saahuun" (QS. Al Maa�uun [107] : 4-5). Kecelakaanlah bagi
orang-orang yang lalai dalam shalatnya!
Amal baru diterima kalau benar-benar bermutu tinggi
ikhlasnya. Allah Azza wa Jalla berfirman, "Padahal mereka tidak disuruh,
kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat serta
menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus" (QS. Al
Bayyinah [98] : 5). Allah pun tidak memerintahkan kita, kecuali menyempurnakan
amal-amal ini semata-mata karena Allah. Ada
riya sedikit saja, pahala amalan kita pun tidak akan diterima oleh Allah Azza
wa Jalla. Ini dalam urusan ukhrawi.
Demikian juga dalam urusan duniawi produk-produk yang unggul
selalu lebih mendapat tempat di masyarakat. Lebih mendapatkan kedudukan dan
penghargaan sesuai dengan tingkat keunggulannya. Para
pemuda yang unggul juga bisa bermamfaat lebih banyak daripada orang-orang yang
tidak memelihara dan meningkatkan mutu keunggulannya.
Pendek kata, siapapun yang ingin memahami Islam secara lebih
cocok dengan apa-apa yang telah dicontohkan Rasul, maka bagian yang harus
menjadi pedoman hidup adalah bahwa kita harus tetap tergolong menjadi orang
yang menikmati perbuatan dan karya terbaik, yang paling berkulitas. Prestasi
dan keunggulan adalah bagian yang harus menjadi lekat menyatu dalam perilaku
kita sehari-hari.
Kita harus menikmati karya terbaik kita, ibadah terbaik
kita, serta amalan terbaik yang harus kita tingkatkan. Tubuh memberikan karya
terbaik sesuai dengan syariat dunia sementara hati memberikan keikhlasan
terbaik sesuai dengan syariat agama. Insya Allah, di dunia kita akan memperoleh
tempat terbaik dan di akhirat pun mudah-mudahan mendapatkan tempat dan balasan
terbaik pula.
Tubuh seratus persen bersimbah peluh berkuah keringat dalam
memberikan upaya terbaik, otak seratus persen digunakan untuk mengatur strategi
yang paling jitu dan paling mutakhir, dan hati pun seratus persen memberikan
tawakal serta ikhlas terbaik, maka kita pun akan puas menjalani hidup yang
singkat ini dengan perbuatan yang Insya Allah tertinggi dan bermutu. Inilah
justru yang dikhendaki oleh Al Islam, yang telah dicontohkan Rasulullah SAW
yang mulia, para sahabatnya yang terhormat, dan orang-orang shaleh sesudahnya.
Oleh sebab itu, bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi
untuk menjadi seorang pribadi muslim yang berprestasi, yang unggul dalam
potensi yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada setiap diri hamba-hambanya.
Kitalah sebenarnya yang paling berhak menjadi manusia terbaik, yang mampu
menggenggam dunia ini, daripada mereka yang ingkar, tidak mengakui bahwa segala
potensi dan kesuksesan itu adalah anugerah dan karunia Allah SWT, Zat Maha Pencipta
dan Maha Penguasa atas jagat raya alam semesta dan segala isinya ini!
Ingat, wahai hamba-hamba Allah, "Kamu adalah umat
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma�ruf dan mencegah yang
munkar dan beriman kepada Allah ...!� (QS. Ali Imran [3] : 110).
diambil dari milist daarut-tauhiid
Sejenak, mari kita menghela
nafas ..
Sahabat, setiap hari kita disibukkan dengan beragam
kegiatan, bekerja, kuliah dsb. Bahkan tidak jarang kita melewatkan saat-saat
indah bersama keluarga atau bahkan dengan orang yang kita cintai.
Terlebih jika kita sampai melewatkan saat-saat indah
berjumpa Allah, memenuhi undangannya mengerjakan shalat fardhu, ahh sangatlah
merugi pabila karena urusan dunia kita rela kehilangan kenikmatan yang nyata.
ingatlah bahwa detik-detik yang kita lalui, hanyalah satu kali saja kita
lewati, tak mampu kita memutar kembali masa yang sudah dilalui walaupun hanya
satu detik.
Penatnya dunia serta hiruk pikuknya kehidupan seakan
menghimpit dan membuat kita senantiasa mengikuti alurnya, padahal dengan
meluangkan waktu sedikit saja, kita bisa menyegarkan kembali rohani bahkan
jasmani.
Dengan mengerjakan shalat dan berdo'a kepadanya adalah
sebuah solusi yang cukup untuk memberikan semangat, memberikan kesegaran dan
yang utama adalah memberikan ketenangan jiwa.
Sejenak, mari kita menghela nafas ..
menghirup udara segar
menikmati segala karuniaNya
dan mensyukuri segalanya.
Sungguh dengan menghadapkan wajah kita dan bersujud
kepadanya akan memberikan Kedamaian, ketentraman jiwa dan kebeningan hati ..
Apapun yang sedang kita kerjakan, jika adzan sudah
berkumandang itulah saat yang indah bagi kita untuk kembali menghela nafas,
menghilangkan kepenatan, kejenuhan bahkan stress .. dengan mengerjakan shalat,
berdo'a serta mensyukuri segala karunianya.
Semoga Allah yang maha rahiim senantiasa memberikan
kebeningan hati dan ketenangan jiwa kepada kita semua Amiin
..(ps/muslimsources.com)
Akhi .. Tetaplah Beramal
Oleh : Muhammad Izzuddin
�Demi masa sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat
menasehati supaya menaati kebenaran dan menetapi kesabaran�(QS Al�Ashr : 1-3 )
Ikhwa fillah, merupakan prioritas yang sangat dianjurkan
bagi para da�i agar selalu tetap bekerja pada saat terjadinya fitnah, cobaan
dan ujian yang sedang menimpa umat.
Dan saat ini kita berada dizaman itu, Zaman yang penuh
dengan kefitnahan. Banyak sekali kemaksiatan, kemungkaran dan kebobrokan yang
terjadi dimuka bumi ini. Apalagi diiringi teror yang dilakukan orang-orang yang
tidak suka dengan kerja da�wah ini dan teror ini terus melanda para aktivis
da�wah.
Harus kita ingat bahwa Rasulullah bersabda : �Orang mu�min
yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mu�min yang
lemah�( HR Ibnu Majah ).
Dan ini lebih ditegaskan lagi oleh sabda Nabi SAW : �Jihad
yang paling utama ialah menyatakan kebenaran di depan penguasa yang Zalim � (
HR Ibnu Majah )
Ikhwa fillah, amal shaleh merupakan dalil kekuatan beragama
seseorang dan keteguhannya dalam berkeyakinan dan memegang kebenaran. Amal
shaleh adalah bekal utama untuk perjumpan kita kepada Allah dan amal shaleh
menandakan begitu dalamnya terhujam keimanan dalam hati kita.
Kelebihan dan keutamaan diberikan kepada orang yang teguh
dalam memegang agama-Nya pada masa-masa terjadinya fitnah dan cobaan, sehingga
orang yang berpegang teguh kepada ajaran agama-Nya pada hari-hari yang
memerlukan kesabaran maka dia akan mendapatkan 50 pahala sahabat Nabi SAW.
Janganlah kita menjadi lemah, berputus asa, berhenti total
setelah bekerja. Da�wah ini membutuhkan Da�i-da�i yang handal, Da�i-da�i yang
selalu bergerak, Da�i-da�i yang selalu menyibukkan akal dan hatinya untuk
da�wah, dimanapun ia berada, dalam kondisi dan situasi apapun, mereka selalu
menawarkan watak da�wah Rabbaniyah ini yaitu kembali ke jalan Allah.
�Nahnu du�at qabla kulli syai� inilah prinsip yang harus
tertanam dalam diri kita.Ingatlah bahwa kehadiran kita ditengah bangsa dan umat
ini bukan hanya sekedar kehadiran politis biasa, bukan untuk mengejar
kekuasaan, jabatan, kekayaan, sanjungan dan materi dunia lainnya. Tetapi
kehadiran kita ditengah bangsa dan umat ini sebangai pembangun moral dan
pemberi arah kepada bangsa dan umat ini, yaitu moral dan arah yang sesuai dengan
Al Quran dan AS sunnah.
Ikhwa fillah, kita harus pahami bahwa da�wah ini jalannya
panjang ( Thuluth Thoriq ) banyak halangan dan rintangan ( Katsiratul awaaiq ),
yang terkadang dengan sifat da�wah ini menjadikan kita bosan, lelah hingga kita
terjangkit penyakit futur dan hal ini sangat berbahaya. Akan tetapi kita harus
pahami pula bahwa sifat da�wah ini akan memberikan bonus yang besar kepada
Da�i-da�i yang selalu bekerja atau beramal shaleh. Bayangkan akhi, kita
berguling-gulingan di sweet rooom atau kamar-kamar utama di surga, Allah
tersenyum kepada kita, dan jika Allah tersenyum kepada seorang hamba di suatu
tempat, maka tiada hisab ( perhitungan ) lagi atasnya ( HR Ahmad, Abu ya�la dan
Thabrani ).
Ikhwa fillah, begitu banyak janji Allah yang 100%
kebenarannya kepada manusia yang berjihad di jalan Allah atau bekerja atau
beramal dalam menegakkan nilai-nilai islam di zaman fitnah ini, janji akan
kebahagiaan hidup didunia dan akhirat.
Oleh karena itulah, jangan sampai amal yang kita lakukan
menjadi amal yang sia-sia di mata Allah, yang akhirnya pada saat perjumpaan dengan
Allah amalnya menjadi haba-an mantsura ( debu yang beterbangan ). Sebab itu
kita harus mengimunisasi amal kita agar tidak terkena penyakit-penyakit amal
seperti riya ( beramal untuk dilihat ), ujub ( kagum diri ), sum�ah ( beramal
untuk populer atau di dengar ) dan mann ( membangkit-bangkit pemberian)��.
Ikhwa fillah, tiada kata lain dan keraguan lagi, tetaplah
beramal dengan ikhlas was shawab, surga telah menanti kita.
Imam Ahmad rahimahullah, ketika ia ditanya,� Kapan seorang
hamba bisa istirahat ?� Belia menjawab,�ketika kakinya menginjak surga�.
Wallahu a�lam bis shawab.
Ikhlas
KH. Abdullah Gymnastiar
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang ikhlas.
karena betapapun kita melakukan sesuatu hingga bersimbah peluh berkuah
keringat, habis tenaga dan terkuras pikiran, kalau tidak ikhlas melakukannya,
tidak akan ada nilainya di hadapan Allah. Bertempur melawan musuh, tapi kalau
hanya ingin disebut sebagai pahlawan, ia tidak memiliki nilai apapun.
Menafkahkan seluruh harta kalau hanya ingin disebut sebagai dermawan, ia pun
tidak akan memiliki nilai apapun. Mengumandangkan adzan setiap waktu shalat,
tapi selama adzan bukan Allah yang dituju, hanya sekedar ingin memamerkan
keindahan suara supaya menjadi juara adzan atau menggetarkan hati seseorang,
maka itu hanya teriakan-teriakan yang tidak bernilai di hadapan Allah, tidak
bernilai!
Ikhlas, terletak pada niat hati. Luar biasa sekali
pentingnya niat ini, karena niat adalah pengikat amal. Orang-orang yang tidak
pernah memperhatikan niat yang ada di dalam hatinya, siap-siaplah untuk
membuang waktu, tenaga, dan harta dengan tiada arti. Keikhlasan seseorang benar-benar
menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh
lebih bermakna.
Apakah ikhlas itu? Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak
menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dari apa yang dapat ia
lakukan. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang
dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Jadi ketika sedang memasukan uang ke
dalam kotak infaq, maka fokus pikiran kita tidak ke kiri dan ke kanan, tapi
pikiran kita terfokus bagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi
Allah.
Apapun yang dilakukan kalau konsentrasi kita hanya kepada
Allah, itulah ikhlas. Seperti yang dikatakan Imam Ali bahwa orang yang ikhlas
adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh
Allah. Seorang pembicara yang tulus tidak perlu merekayasa kata-kata agar penuh
pesona, tapi ia akan mengupayakan setiap kata yang diucapkan benar-benar
menjadi kata yang disukai oleh Allah. Bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Bisa dipertanggungjawabkan artinya. Selebihnya terserah Allah. Kalau ikhlas
walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang kuasa menghujamkannya kepada
setiap qalbu.
Oleh karena itu, jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa.
Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun dari manusia. Allah
Mahatahu segala lintasan hati, Mahatahu segalanya! Makin bening, makin bersih,
semuanya semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah yang akan menolong
segalanya.
Buah apa yang didapat dari seorang hamba yang ikhlas itu?
Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketentraman jiwa, ketenangan batin.
Betapa tidak? Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan
pujian, penghargaan, dan imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal
yang tidak menyenangkan. Begitu pula menunggu diberi pujian, juga menjadi
sesuatu yang tidak nyaman. Lebih getir lagi kalau yang kita lakukan ternyata
tidak dipuji, pasti kita akan kecewa.
Tapi bagi seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah
mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari
mendapatkan, tapi dari apa yang bisa dipersembahkan. Jadi kalau saudara
mengepel lantai dan di dalam hati mengharap pujian, tidak usah heran jikalau
nanti yang datang justru malah cibiran.
Tidak usah heran pula kalau kita tidak ikhlas akan banyak
kecewa dalam hidup ini. Orang yang tidak ikhlas akan banyak tersinggung dan
terkecewakan karena ia memang terlalu banyak berharap. Karenanya biasakanlah
kalau sudah berbuat sesuatu, kita lupakan perbuatan itu. Kita titipkan saja di sisi
Allah yang pasti aman. Jangan pula disebut-sebut, diingat-ingat, nanti malah
berkurang pahalanya.
Lalu, dimanakah letak kekuatan hamba-hamba Allah yang
ikhlas? Seorang hamba yang ikhlas akan memiliki kekuatan ruhiyah yang besar. Ia
seakan-akan menjadi pancaran energi yang melimpah. Keikhlasan seorang hamba
Allah dapat dilihat pula dari raut muka, tutur kata, serta gerak-gerik
perilakunya. Kita akan merasa aman bergaul dengan orang yang ikhlas. Kita tidak
curiga akan ditipu, kita tidak curiga akan dikecoh olehnya. Dia benar-benar
bening dari berbuat rekayasa. Setiap tumpahan kata-kata dan perilakunya tidak
ada yang tersembunyi. Semua itu ia lakukan tanpa mengharap apapun dari orang
yang dihadapinya, yang ia harapakan hanyalah memberikan yang terbaik untuk
siapapun.
Sungguh akan nikmat bila bergaul dengan seorang hamba yang
ikhlas. Setiap kata-katanya tidak akan bagai pisau yang akan mengiris hati.
Perilakunya pun tidak akan menyudutkan dan menyempitkan diri. Tidak usah heran
jikalau orang ikhlas itu punya daya gugah dan daya ubah yang begitu dahsyat.
Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :
Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar.
Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan
kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para
malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka
bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat
dari pada gunung?"
Allah menjawab, "Ada,
yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika
dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari
besi).
Para malaikat pun kembali
bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat
dari pada besi?"
Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa
menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).
Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah
sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"
Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat
apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).
"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih
kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikta.
Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin"
(Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan
menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas
karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada
lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang
teramat dahsyat).
Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah
adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"
Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab,
"Ada,
yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara
tangan kirinya tidak mengetahuinya."
Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling
dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya,
sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur
pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.
Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana
seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang
bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita
sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima
kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa
yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi
kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa
kebaikan.
Nah, sahabat. Orang yang ikhlas adalah orang yang punya
kekuatan, ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu
pujian dan penghargaan. Allaahuakbar.***
diambil dari milist daarut-tauhiid
Untuk mendownload file diatas klik link dibawah ini :